Friday, July 1, 2011

Green Steel?

 

Dalam beberapa tahun terakhir, klaim “hijau” telah menjadi salah satu jurus pemasaran yang kerap digunakan mulai dari produk konsumsi, kemasan, kendaraan bermotor hingga kegiatan konstruksi. Sejauh apakah aspek hijau tersebut dapat benar-benar diwujudkan dalam dunia industri (bangunan)?

Courtesy: www.gio.gov.tw
Istilah hijau umumnya menunjukkan dampak minimal yang ditimbulkan atau bahkan manfaat besar/strategis yang diberikan bagi lingkungan atas penggunaan suatu produk atau pelaksanaan suatu kegiatan/proses. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan asal muasal suatu produk yang diperoleh dari alam namun tetap memperhatikan kelestarian atau keberlanjutan bagi generasi mendatang. Sebagian besar penggiat lingkungan berpendapat bahwa produk yang hijau berasal dari bahan yang dapat diperbaharui (renewable) secara alami, misalnya: tanaman, sinar matahari. Bahan-bahan tambang, seperti minyak bumi, batu bara dan biji besi, tentunya tidak termasuk dalam kategori tersebut. Proses produksinya pun menjadi pertimbangan: apakah membutuhkan banyak energi dan menghasilkan limbah atau polusi bagi lingkungan?

Di sisi lain, proses pembangunan (konstruksi) modern saat ini sangat tergantung dengan material (bahan bangunan) yang dapat memenuhi tuntutan spesifikasi teknis maupun ekonomisnya. Salah satu yang populer sejak era Revolusi Industri dan telah dipakai secara luas sebagai bahan bangunan modern adalah baja. Namun proses produksi baja dinilai kurang ramah terhadap lingkungan, baik sejak tahap penambangan yang mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan fisik hingga pembuatan material baja yang membutuhkan energi serta menghasilkan polusi. Benarkah tidak ada sisi hijau dalam baja?

Bagi sebagian pemerhati lingkungan, penerapan prinsip hijau tidak selalu merupakan penjumlahan atas unsur-unsur yang sepenuhnya hijau, tetapi seringkali adalah sintesa atas sejumlah aspek yang memperhatikan kontekstualitas potensi dan masalahnya untuk menjadi solusi yang terbaik bagi: bumi/lingkungan, manusia, dan ekonomi (3P: planet, people, profit). Mungkin material kayu merupakan solusi hijau untuk proyek perumahan di kawasan yang memiliki hutan tanaman industri, namun baja (misalnya) bisa menjadi solusi yang lebih aman, efektif dan efisien bagi bangunan modern berlantai jamak, baik dalam proses konstruksinya maupun operasionalnya.

Dalam kasus baja, prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) menjadi kekuatan utamanya. Dibandingkan dengan material konvensional lainnya, produk ini memiliki usia guna (life cycle) yang panjang, membuatnya menjadi material dengan tingkat perawatan atau penggantian yang rendah. Sebagai hasil produksi modern, baja memiliki spesifikasi dan standard teknis tertentu, sehingga dapat dimanfaatkan kembali untuk fungsi-fungsi yang berbeda. Produk baja dapat dilebur, didaur ulang menjadi produk baru. Dalam tahap produksi, baja mungkin jauh dari kriteria “green”, namun sebagai bahan jadi ternyata baja memenuhi prinsip 3R lingkungan tersebut.

Saat ini kalangan industri baja telah berlomba-lomba untuk menekan atau mengurangi dampak negatif atas proses penambangan dan pembuatan baja. Energi yang digunakan di pabrik pembuatan baja mulai didukung oleh sumber energi terbarukan. Proses penambangan juga mempertimbangkan potensi lingkungan (lokasi) yang perlu dilestarikan, demikian juga perhatian terhadap masyarakat sekitarnya. Spesifikasi teknis dikembangkan agar baja memenuhi kebutuhan fungsional tetapi juga dapat didaur ulang menjadi produk yang tetap berkualitas tinggi. Aspek transportasi dan konstruksi juga ditingkatkan seefisien mungkin untuk mengurangi konsumsi energi.

Dapat disimpulkan bahwa klaim green sangat bergantung pada solusi menyeluruh yang didasarkan pada pemahaman kontekstual atas potensi dan masalah yang ada. Dalam hal baja, bahan ini dapat menjadi solusi yang green jika implementasinya didasarkan pada kebutuhan proyek akan efektifitas proses konstruksi (minimalisasi energi konstruksi), kekuatan struktur (misalnya bagi bangunan bertingkat), daya tahan dan usia pakai yang lama, fleksibilitas dalam modifikasi dan penggunaan kembali. Dan bagi perancang yang bijak, maka solusi rancangan hijau tentunya bukan hanya berdasarkan pada material tunggal, melainkan paduan dari berbagai material ramah lingkungan lainnya. (PN)

Web Hosting

1 comment:

Rakryan Mataram said...

Tetap perlu dikaji: Berapa besar energi yang diperlukan (dan carbon yang dihasilkan) pada proses pembuatan baja? Dan apakah penerpan prinsip 3R cukup "seimbang" dengan kenyataan tsb?