Ecotourism - sering diterjemahkan sebagai ekowisata - adalah perilaku wisata yang bertanggung jawab, karena biasanya mengunjungi obyek atau daerah yang masih asli atau dilindungi, yaitu dengan melakukannya dalam kelompok kecil/terbatas serta senantiasa berusaha memberi dampak minimal (sebagai alternatif wisata konvensional yang cenderung massal). Tujuannya adalah untuk memberikan wawasan bagi para wisatawan, mendukung upaya konservasi lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, serta mendorong penghormatan terhadap budaya yang berbeda sebagai wujud hak asasi manusia.
![]() |
| Lompat Batu (Nias, Sumatera Barat) |
Sejak 1980-an ecotourism telah dianggap sebagai bentuk reaksi kritis terhadap berbagai masalah lingkungan demi kehidupan yang lebih baik. Ekowisata biasanya merupakan perjalanan ke tempat-tempat di mana mana flora, fauna dan warisan budaya adalah atraksi utamanya. Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan wawasan bagi wisatawan akan dampak (kegiatan) manusia terhadap lingkungan, serta menumbuhkan penghargaan yang lebih besar terhadap habitat alam di sekitar kita.
Ecotourism mengembangkan program-program yang meminimalkan dampak negatif dari wisata konvensional dan meningkatkan integritas budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, selain mempertimbangkan faktor lingkungan dan budaya, maka promosi daur ulang, efisiensi energi, konservasi air, dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat merupakan bagian integral dari ekowisata. Untuk alasan ini, ecotourism sangat menarik bagi para penggiat lingkungan dan masyarakat.
KRITERIA
Ecotourism merupakan bentuk wisata mengunjungi kawasan alami - di padang gurun terpencil atau lingkungan perkotaan. Menurut definisi dan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada tahun 1990, ekowisata adalah "perjalanan yang bertanggung jawab ke daerah-daerah alami untuk melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat." Martha Honey, memperluas definisi tersebut dengan menggambarkan tujuh karakteristik ekowisata, yaitu:
- Melibatkan perjalanan ke tujuan-tujuan yang alami
- Meminimalkan dampak
- Membangun kepedulian terhadap lingkungan
- Memberi dukungan finansial secara langsung terhadap pelestarian lingkungan
- Memberi manfaat finansial dan memberdayakan masyarakat setempat
- Menghargai kebudayaan lokal
- Mendukung upaya-upaya demokratis dan penghargaan atas hak asasi manusia
Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk (misalnya):
- Pelestarian keragaman ekologis dan budaya melalui perlindungan ekosistem
- Mendukung keberlanjutan keragaman hayati dengan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat
- Berbagi manfaat sosial-ekonomis dengan masyarakat lokal dan penduduk asli dengan melibatkannya dalam penyelenggaraan ekowisata
- Saat berkunjung ke obyek alami, salah satu prinsip utamanya adalah berupaya memberi dampak seminimal mungkin
- Keberlanjutan dan limbah yang minimal merupakan wujud dari “kemewahan”
- Atraksi utamanya adalah: budaya, fauna dan flora lokal
- Masyarakat setempat mendapat manfaat ekonomis dari wisata ini, bahkan seringkali lebih baik daripada wisata konvensional
![]() |
| Gunung Bromo (Jawa Timur) |
Konsep ekowisata kerap disalahpahami dan dalam prakteknya sering digunakan sebagai alat pemasaran untuk mempromosikan pariwisata yang berhubungan dengan alam. “Malpraktek” ini sering dilakukan oleh pariwisata hutan. Para kritikus menganggap bahwa praktek-praktek “greenwashing” sering dilakukan atas nama ekowisata, misalnya dalam bentuk pembangunan hotel mewah hanya untuk mendapatkan pemandangan alam yang indah padahal merugikan ekosistem. Mereka mengutuk beberapa operator sebagai greenwashing karena menggunakanlabel "hijau" dan "ramah lingkungan" sementara berperilaku dengan cara yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Meskipun kalangan akademis belum sepenuhnya sepakat mengenai definisi ekowisata, sejumlah statistik menunjukkan bahwa diperkirakan sekitar lima juta ecotourists berasal dari Amerika Serikat, dan banyak lagi dari Eropa Barat, Kanada dan Australia. Meskipun prosesnya kerap kali kontroversial, berbagai langkah telah dilakukan untuk menetapkan akreditasi ekowisata nasional dan internasional, sebagaimana yang dijalankan oleh Costa Rica, Australia, Kenya dan Swedia.
KEBERLANJUTAN
Regulasi dan Akreditasi
Karena prinsip-prinsip ekowisata tidak diterapkan dengan baik, kerusakan ekologis sering terjadi akibat tindakan greenwashing, seperti: hotel bawah air, wisata helikopter, taman wisata alam tematik, photography camp, pengamatan satwa yang seringkali menyatakan diri sebagai ekowisata. Kegagalan untuk mengakui dampak ekologis dari kegiatan tersebut justru dalam jangka panjang akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan-perusahaan penyelenggara “ekowisata” tersebut.
![]() |
| Snorkeling (Wakatobi, Sulawesi Utara) |
Banyak penggiat lingkungan berpendapat bahwa untuk standar akreditasi global hal yang utama yang membedakan perusahaan ekowisata adalah tingkat komitmennya terhadap lingkungan. Sebuah dewan regulasi nasional atau internasional diperlukan untuk menegakkan prosedur akreditasi, dengan perwakilan terdiri dari unsur: pemerintah, hotel, tour operator, travel agent, pemandu (guide), transportasi (penerbangan, kapal dsb), organisasi dan masyarakat. Keputusan dewan akan dikuatkan oleh pemerintah sehingga perusahaan yang memang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan harus menanggalkan status ekowisatanya.
Crinion merujuk pada Green Star Rating System berdasarkan pada kriteria: rencana pengelolaan, interaksi serta manfaat bagi masyarakat setempat, pendidikan dan pelatihan staff. Ecotourist sejati menjadi yakin dan akan mempertimbangkan pilihan pengalaman ekowisata berdasarkan tingkat rating tersebut. Selain itu, analisis dampak lingkungan (AMDAL) dapat pula digunakan sebagai bentuk akreditasi. Kelayakan dievaluasi secara ilmiah, dan rekomendasi dibuat agar perencanaan infrastruktur, kapasitas pengunjung dan pengelolaan ekologis bisa dilakukan secara optimal. Bentuk akreditasi mungkin lebih tepat diterapkan pada situs-situs tertentu.
Panduan dan Pembelajaran
Sebuah strategi perlindungan lingkungan harus dikembangkan untuk memahami (dan memanfaatkan secara positif) sebab-akibat tindakan para ecotourist terhadap lingkungan. Inisiatif perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kepekaan mereka mereka akan isu-isu lingkungan, dan peduli tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi. Pemandu wisata merupakan “media” yang sangat berperan penting karena berinteraksi langsung dengan para wisatawan sehingga mampu mengkomunikasikan hal-hal tersebut. Karena dipercaya oleh para ecotourists dan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang lingkungan, para pemandu wisata secara aktif dapat mendiskusikan isu-isu konservasi. Sebuah program pelatihan panduan wisata di Taman Nasional Tortuguero di Costa Rica telah membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dengan menyediakan informasi dan mengatur wisatawan yang berkunjung di pantai taman yang juga merupakan temat bersarang penyu laut yang terancam punah.
Skala Kecil, Pertumbuhan Bertahap dan Pengendalian Lokal
![]() |
| Harimau Sumatera |
Saat ini muncul bentuk baru imperialisme oleh perusahaan multinasional yang mengendalikan serta menguasai sumber daya ekowisata. Pengembangan “ekowisata” skala besar justru menyebabkan degradasi lingkungan yang berlebihan, hilangnya budaya dan gaya hidup tradisional, serta eksploitasi tenaga kerja lokal. Di Zimbabwe dan daerah Annapurna, Nepal, lebih dari 90 persen pendapatan ekowisata jatuh ke tangan para expatriate dan kurang dari 5 persen yang dinikmati masyarakat lokal.
Masyarakat lokal sangat berkepentingan dengan kesejahteraan komunitas mereka, dan karena itu tentunya akan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dibandingkan perusahaan multinasional. Dalam kebijakan pembangunan “ekowisata” berskala besar, kerugian akibat dampak buruk terhadap lingkungan serta hilangnya budaya dan tradisi lokal lebih besar daripada manfaat yang dihasilkannya. Sebaliknya, ekowisata yang dikelola secara lokal akan menciptakan peluang dan meningkatkan kontribusi ekonomi yang lebih layak, mengurangi masalah lingkungan yang terkait dengan kemiskinan dan pengangguran, termasuk memberi peluang akan posisi yang lebih baik di tingkat manajerial.
![]() |
| Wisata Desa (Panglipuran, Bali) |
Karena dalam ecotourism sejati, yang dipasarkan adalah pengalaman ekowisata sebagai gaya hidup yang berbeda dari wisata konvensional skala besar. Pembangunan sarana dan prasarana tidak perlu sesuai dengan standar pariwisata Barat, dan dapat jauh lebih sederhana dan lebih murah. Akan ada multiplier effect lebih besar pada perekonomian, karena penggunaan produk, bahan, dan tenaga kerja lokal. Keuntungan lebih besar bagi perekonomian lokal karena import berkurang. Namun juga disadari, bahkan ecotourism mungkin memerlukan investasi asing untuk promosi atau start up. Ketika hal itu dipelukan, sangat penting bagi masyarakat setempat untuk menemukan sebuah perusahaan atau organisasi non-pemerintah yang memahami filosofi ekowisata, peka terhadap kepentingan masyarakat dan bersedia untuk bekerjasama secara saling menguntungkan. Asumsi dasar dari multiplier effect adalah bahwa perekonomian dimulai dengan sumber daya yang tidak terpakai, misalnya bahwa banyak tenaga kerja yang menganggur dan banyak kapasitas industri tidak dimanfaatkan dengan baik.
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM
Pengelolaan sumber daya alam dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pengembangan ekowisata. Ada beberapa tempat di dunia dimana yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tapi, akibat perambahan manusia, sumber daya ini semakin menipis. Tanpa mengetahui cara-cara pemanfaatan sumber daya yang tepat maka spesies flora dan fauna tertentu akan punah. Program ekowisata dapat diperkenalkan untuk mendukung konservasi sumber daya ini. Rencana dan program pengelolaan yang tepat dapat dikembangkan sehingga sumber daya ini tetap lestari. Sejumlah organisasi, LSM, dan ilmuwan bekerja bekerja dan cukup ahli di bidang ini.
![]() |
| Candi Borobudur (Jawa Tengah) |
Pemerintah dan Lembaga Masyrakat di Asia Tenggara bekerja sama dengan kalangan akademis dan industri pariwisata untuk menyebarkan manfaat ekonomi dari program pariwisata ke kampung dan desa setempat. SEATO (South-East Asia Tourism Organization) berupaya menyatukan para pemangku kepentingan yang berbeda untuk perbaikan pengelolaan sumber-sumber daya (alam, manusia, ekonomi) yang terkait dengan kegiatan ekowisata di Asia Tenggara.






1 comment:
Seharusnya ecotourism menjadi primadona dalam pengembangan wisata di Indonesia. Namun seberapa siapkah regulasi kita mendukungnya?
Post a Comment